Rafflesia...


Puspaku Terasing di Negerinya

Catatan Perjalanan Mario Andramartik

(Disampaikan pada National Focus Group Discussion "Bengkulu menatap ke depan, bunga langka, kekayaan alam dan potensi ekonominya" 5 Desember 2011 di Bank Indonesia Bengkulu)


Di bulan Juli 1999 cuaca kota Juneau yang merupakan ibukota negara bagian Alaska sangatlah indah. Walau mentari tepat berada diatas kepala tetapi tidak terasa panas seperti kita berada di Indonesia. Cuaca siang yang cerah bersuhu 12 derajat celsius dengan angin bertiup semilir dan menyejukkan. Setelah melakukan city tour keliling kota termasuk ke Mount Robert dengan tram untuk melihat keindahan kota Juneau dari atas gunung dan sempat juga keliling kota dengan berjalan sembari mencari souvenir dan tak lupa mampir ke toko buku untuk mencari buku tentang kota Juneau dan negara bagian Alaska. Dan aku melihat sebuah buku berjudul Guiness book of records 1998. Aku beli buku tersebut. Beberapa waktu kemudian aku membaca terdapat tulisan “Largest bloom Raflesia Arnoldii of Southeast Asia has blooms three feet across and weighing as much as 36 pound.” Dan dibawah tulisan tersebut terdapat photo bunga Rafflesia Arnoldii. Akan tetapi pada saat itu aku hanya tahu bunga Raflesia Arnoldii adalah bunga terbesar di dunia yang berasal dari Asia Tenggara.

Dan kemudian pada buku Guinness world record 2002 tersebut “ Largest flower. The orange brown and white parasite Rafflesia Arnoldii has the largest of all blooms. These attach themselves to the the cissus vines of the jungle in Southeast Asia. Resembling huge poppy, they measure up to 3 feet (19 cm) across,weigh up to 24,25 lb(11 kg) with petals 0.75 in (1.9 cm) thick. There are 16 known species of Rafflesia (named after Sir Stamford Raffles and Dr.Joseph Arnold)- the latest discovery is as recent as 1988”.

Pada tahun 2000 dari Jakarta bersama seorang kawan yang berasal dari Manado menuju Bengkulu dengan membawa sendiri kendaraan agar kami mendapat kesempatan untuk melihat bengkulu secara luas. Dan dari perjalanan ini aku baru tahu secara pasti bahwa dari buku rekor dunia yang aku baca yang mereka sebut bunga terbesar di dunia berasal dari Asia Tenggara tidak lain berasal dari Bengkulu. Aku ketahui setelah aku melihat begitu banyaknya nama Rafflesia yang dipakai untuk berbagai nama produk. Selanjutnya aku selalu sampaikan kepada setiap orang-orang asing selama aku berada di America, Eropa, Australia dan New Zealand. Bila mereka bertanya padaku : “where are you from Mario?” dan aku jawab “I am from Lahat South Sumatera, Indonesia”. Sumatera is the 6th largest island in the world and home for Raflesia Arnoldii, the largest bloom flower in the world that located in Bengkulu.

Betapa bangga dan antusiasnya aku menyampaikan pada orang asing bahwa bunga terbesar di dunia adalah Rafflesia Arnoldii yang berasal dari Bengkulu dan merupakan bunga endemik Bengkulu. Dan merekapun terheran-heran juga turut bangga atas kekayaan alam Bengkulu.

Di tahun 2008 aku bersama keluargaku berkunjung ke Bengkulu dan kami menginap di Hotel Raffles City. Dalam kesempatan ini aku melihat obyek wisata kota Bengkulu seperti Pantai Panjang, Rumah Bung Karno dan Benteng Marborough. Dan baru tahun 2011 ini aku mengunjungi Tugu Thomas Parr, Makam Inggris, Masjid Jamik, Makam Sentot Alibasyah, Museum Negeri Bengkulu dan Bunga Rafflesia Arnoldii. Mungkin pada tahun 2002 dan 2008 aku melihat tempat-tempat tersebut tapi karena tidak adanya petunjuk tentang tempat-tempat tersebut maka tidak menjadi perhatianku. Minatku untuk mengunjungi Tugu Thomas Parr, Makam Inggris, Masjid Jamik dan Makam Sentot Alibasyah karena tempat tersebut merupakan Benda Cagar Budaya yang dilindungi Undang-Undang nomor 11 tahun 2010 dan juga disebutkan dalam buku travel yang ditulis oleh Lonely Planet.

Bulan Februari 2011 merupakan pertemuan perdana aku dengan bunga Rafflesia Arnoldii di Bukit Daun Desa Tebat Monok Kabupaten Kepahyang, Bengkulu. Aku sangat tertarik setelah beberapa kali aku melihat di internet betapa indahnya bunga Rafflesia arnoldii dan akhirnya aku berkenalan via facebook dan diteruskan melihat bunga Rafflesia Arnoldii bersama seorang sahabatku yang sangat peduli dengan bunga ini dan saat ini menjadi koordinator Komunitas Peduli Puspa Langka, saudara Sofian, kemudian aku berkenalan dengan anggota komunitas lainnya.

Masyarakat dan Pemerintah Bengkulu harus bangga memiliki kekayaan alam hayati yang telah terkenal di dunia seperti bunga Rafflesia Arnoldii. Dan bunga Rafflesia Arnoldii telah di akui dunia internasional sebagai bunga terbesar di dunia seperti tersebut dalam buku Guinness world record tahun 1998 dan 2002. Dan berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1993 Tentang Satwa Dan Bunga Nasional telah ditetapkan tiga jenis bunga sebagai bunga nasional yaitu 1.Melati (Jasminum sambac) sebagai puspa bangsa, 2.Anggrek Bulan (Palaonopsis ambilis) sebagai puspa pesona dan 3. Padma Raksasa (Rafflesia Arnoldii) sebagai puspa langka.

Di dunia ada sekitar 25 jenis Rafflesia yang tumbuh di Thailand, Malaysia, Philippina dan Indonesia. Di Indonesia sendiri terdapat 14 jenis Rafflesia yang tumbuh di Jawa, Kalimantan dan Sumatera. Namun dari semua tempat di dunia yang terdapat bunga Rafflesia hanya satu tempat atau satu daerah yang menyebut diri sebagai Bumi Rafflesia yaitu Bengkulu.

Masyarakat dan pemerintah Bengkulu betapa bangganya terhadap bunga Rafflesia Arnoldii. Untuk menginap ada hotel Raffles, bepergian ada bus Rafflesia, untuk berobat ada rumah sakit Rafflesia, batik besurek khas Bengkulu bermotif Rafflesia, di trotoar jalan terdapat bunga rafflesia, jasa sumur bor Rafflesia, setiap ada pameran atau expo ada Rafflesia dan masih banyak lagi nama-nama dan photo-photo bunga rafflesia yang tersebar luar di seantero Bengkulu. Bahkan di bandara Soekarno Hatta, baleho dari Kementerian Lingkungan Hidup terpajang bunga Rafflesia. Akan tetapi sungguh sangat ironis masih banyak masyarakat Bengkulu bahkan pejabat-pejabat Bengkulu baik yang berada di Bengkulu atau di luar yang belum pernah melihat bunga Rafflesia di habitatnya, apalagi ingin mengenal lebih dalam, mempromosikan dan melestarikan bunga langka yang merupakan bunga endemik Bengkulu.

Bunga Rafflesia Arnoldii yang telah diakui dunia internasional sebagai bunga terbesar di dunia seperti tertulis di buku Guinness world record tahun 1998 dan 2002 akan tetapi tidak di tulis dan dijelaskan dalam booklet berjudul “Discover Wonderful Bengkulu” yang dipublikasikan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Bengkulu tahun 2010. Di booklet tersebut hanya ada photo bunga Rafflesia Arnoldii saja tanpa keterangan atau penjelasan tentang Bunga Rafflesia Arnoldii dan bunga-bunga lainnya yang telah membuat rekor tersendiri. Hal ini sungguh sangat ironis. Jika Pemerintah Bengkulu sendiri tidak mengupayakan atau mempromosikan bunga kebanggaan masyarakat Bengkulu dan Indonesia, maka bagaimana bunga Rafflesia Arnoldii dapat dikenal oleh masyarakat bengkulu dan Indonesia, Sehingga tidak heran bila banyak masyarakat dan pejabat Bengkulu sendiri yang belum pernah melihat Rafflesia di habitatnya.

Habitat Rafflesia Arnoldii yang terletak di desa Tebak Monok Kabupaten Kepahyang hanya dikelola dan di jaga oleh kelompok orang yang peduli terhadap Rafflesia Arnoldii yaitu Holidin bersaudara. Mereka sejak tahun 1998 menjaga puspa langka ini dari gangguan binatang dan jamahan tangan-tangan jahil. Holidin bersaudara secara swadaya dan donatur dari para pengunjung yang datang melihat ketika bunga ini mekar, membuat fasilitas apa adanya seperti jalan dan jembatan dan memandu dengan senang hati para pengunjung. Telah 13 tahun Holidin bersaudara berupaya agar habitat Rafflesia Arnoldii terbebas dari gangguan binatang dan manusia, sehingga sampai saat ini kita masih dapat melihat bunga langka yang hanya hidup di Bengkulu. Pemerintah Kabupaten Kepahyang dan Pemerintah Propinsi Bengkulu belum ada upaya untuk membantu mereka yang telah membantu pelestarian bunga langka Indonesia. Dan Pemerintah juga belum ada upaya untuk menjadikan habitat Rafflesia Arnoldii khususnya yang berada di desa Tebat Monok sebagai daerah konservasi yang dapat dijadikan sebagai lahan penelitian, pengembangan, dan pelestarian. Bila hal ini tidak dilakukan maka di khawatirkan habitat Rafflesia Arnoldii akan terancam musnah dan pada akhirnya Bengkulu, Indonesia dan masyarakat dunia tidak akan dapat melihat bunga Rafflesia Arnoldii lagi. Pemerintah selain membuat habitat Rafflesia Arnoldii sebagai lahan konservasi juga dapat dijadikan sebagai tujuan wisata berupa ecotourism atau taman Rafflesia yang akan membantu ekonomi bagi masyarakat dan pemerintah Bengkulu.

Seperti yang saya lihat di Buchart Garden, Victoria, Canada. Taman ini awalnya di bangun secara pribadi dan saat ini menjadi taman terbesar dan tercantik di benua Amerika. Di semua kota yang saya kunjungi di New Zealand, Australia, America dan Canada terdapat Botanical Garden atau kebun botani. Seperti terdapat di Sydney, Melbourne, Brisbane, Auckland, Wellington, Christchuch, Dunedin, New York, San Francisco, Los Angeles, San Diego, Vancouver, Victoria dan Montreal. Disana selain tumbuh dan berkembang bunga-bunga endemik juga bunga dari berbagai tempat di dunia. Bukan saja sebagai tempat konservasi juga sebagai tempat wisata yang indah, sejuk nyaman, dan aman.

Kalau habibat Rafflesia dijadikan lahan konservasi dan atau ecotourism, maka akan berdampak positif terhadap ekonomi masyarakat dan Pemerintah Bengkulu. Disana akan tumbuh tour & travel, kios souvenir, kedai makanan & minuman, pemandu wisata, pengembangan aset budaya dan peluang usaha lainnya.

Dan saatnya kini, kita masyarakat dan pemerintah Bengkulu berupaya untuk mewujudkan sebuah taman untuk habitat Rafflesia Arnoldii, Rafflesia Gadutensis, Rafflesia Haseltii, dan Rafflesia Bengkuluensis (4 (Empat) Rafflesia yang tumbuh di Bengkulu), Amorphophallus Titanum, Anggrek Tebu dan flora lainnya. Dengan adanya taman ini selain akan meningkatkan ekonomi masyarakat dan pemerintah Bengkulu juga akan berdampak positif terhadap nama Bengkulu sendiri yang telah mengproklamirkan diri sebagai Bumi Rafflesia.


Penulis Mr Mario Andramartik